adalah sebuah perangkat lunak yang
menjadi pengemuka perangkat lunak untuk mengaudit PC yang telah memiliki
10 tahun pengalaman di bidang audit PC sehingga mempunyai slogan “PC
audit software made easy”.
A. Easy to use
Perangkat lunak yang mudah dipahami dan dipelajari cara
penggunaannya. Faktanya, hanya sekitar 10 % dari user yang menggunakan
fitur Support (Bantuan Aplikasi) yang telah disediakan.
B. Setup takes just minutes
Waktu instalasi hanya memerlukan beberapa menit sehingga mudah untuk diimplementasikan ke banyak komputer.
C. No changes to your network or how you work today
Tidak seperti kebanyakan audit tools, E-Z Audit tidak memerlukan
perubahan pada konfigurasi firewall atau Remote Registry dan perubahan
konfigurasi lainnya pada saat proses audit.
D. Multiple ways to audit your PCs
E-Z Audit dapat melakukan proses audit tampa perlu meng-install pada
klien PC dan juga tidak perlu adanya service tambahan untuk menjalankan
fitur ini. Juga penjadwalan proses audit sesuai dengan waktu-waktu
tertentu secara otomatis.
E. No work on your server, no network slowdowns
E-Z Audit dapat juga dijalankan pada PC berbasis Server yang melayani
jaringan namun tidak memakan bandwidth atau sumber daya yang signifikan
sehingga PC Server tetap dapat berjalan dengan baik walaupun sedang
menjalankan proses audit.
F. E-Z Audit is fast
Waktu yang digunakan untuk proses audit pada PC berjalan dengan
cepat, dibandingkan dengan program audit PC, E-Z Audit masih yang
terbaik untuk kecepatan audit PC.
G. Security matters
Tidak seperti program Audit PC lainnya, E-Z Audit tidak pernah
meminta data penggunanya dan juga E-Z Audit tidak mengubah konfigurasi
Firewall, program Anti-Virus, jaringan selama melakukan proses audit PC.
Untuk mendapatkan software E-Z Audit PC, dapat di-unduh lewat website resmi developernya yaitu di alamat
. Versi terbaru yang tersedia saat ini adalah E-Z Audit PC 15. Berikut adalah tahap instalasi program E-Z Audit PC 15 :
1. File instalasi program yang telah selesai di-unduh cukup meng-klik
ganda pada file instaler dan akan muncul window menu instalasi program
seperti gambar 1.
2. Cukup klik button Next > , kemudian finish dan instalasi akan
dimulai, setelah selesai menu E-Z Audit 15 akan muncul di start Windows.
Cara Penggunaan E-Z Audit 15 ( meng-audit laptop saya ASUS A456U)
1. Program E-Z Audit PC dapat dibuka melalui start Windows seperti
pada gambar 2, dan akan memunculkan menu utama seperti pada gambar 3
dibawah ini :
Gambar 3 : Menu Utama Program E-Z Audit 15
Pada menu utama terdapat Tab Menu yang digunakan untuk membuka file
hasil audit, menutup audit yang berjalan, konfigurasi proses audit dan
juga bantuan aplikasi E-Z Audit 15. Proses audit dimulai dengan
meng-klik “Just click here”, seperti pada gambar 3 pada lingkar merah.
2. Setelah itu akan muncul window baru seperti gambar 4 dibawah ini :
Gambar 4 : Window Proses Audit
Window pada gambar 4 menunjukan proses audit yang dilakukan oleh E-Z Audit 15, dimana dilakukan audit terhadap :
a. Perangkat Keras PC dan sistem yang digunakan
b. Printer yang terkoneksi baik lokal, jaringan ataupun virtual seperti OneNotes Printer
c. Storage yang terhubung dan terpasang pada PC yang diaudit, baik Hardisk, flashdisk, HDD External, dan lainnya.
d. Jaringan yang terkoneksi pada PC.
e. Informasi Layar (LCD/LED) dan juga Audio Card system pada PC.
f. Aplikasi Program yang terinstal pada PC
g. Service sistem operasi, Event Log dan juga info keamanan PC.
3. Setelah itu, proses akan dilanjutkan ke audit file seperti gambar 5 dibawah ini :
Gambar 5 : Window Proses Audit File
Proses audit file ini sendiri dapat dilakukan secara custom atau
sendiri oleh user dimana user dapat menentukan spesifikasi file yang
akan di audit pada PC, pada kasus ini saya mengaudit file EXE pada PC.
4. Apabila proses audit telah sepenuhnya selesai, maka program akan
meminta user untuk menyimpan file hasil audit dan untuk menampilkan
hasil audit dapat dilihat pada tab menu “PC Details” dan “Summary
Report”.
5. HASIL
Untuk “PC Details”, merupakan laporan hasil audit
dari komputer yang terinstal Klien E-Z Audit 15. Hasil laporan dapat
dilihat seperti gambar – gambar dibawah ini :
1. About this audit dan Notes
Memberikan informasi mengenai audit yang dilakukan pada PC dan catatan penting.
2. PC Information
Memberikan informasi Spesifikasi PC ( Laptop) yang diaudit.
3. Security Information serta Local Shares and Networking details
Security Information memberikan informasi sistem keamanan yang
dimiliki PC. Local Shares and Networking details memberikan informasi
partisi harddisk dan jaringan PC.
4. Installed Software
Memberikan informasi nama- nama Software yang ter-install pada PC.
5.Startup Programs
Memberikan informasi Startup Programs.
6. System and Applications Event Logs
Memberikan informasi dan status dari log sistem dan aplikasi pada PC.
7. Windows Services Status
Memberikan informasi status service-service pada Windows.
Untuk
“Report”, merupakan laporan hasil audit dari
seluruh komputer – komputer Klien E-Z Audit 15 dimana hasil dilaporkan
dalam persentasi dan angka. Hasil laporan dapat dilihat seperti gambar-
gambar dibawah ini :
1. Summary
Merupakan kesimpulan atau garis besar hasil audit.
2.OS
Memberikan informasi Sistem Operasi yang digunakan oleh PC. Dimana
dapat dilihat pada gambar dibawah hasil audit menyatakan Laptop saya
menggunakan Sistem Operasi Windows 10-1.
3. RAM
Memberikan informasi RAM yang dimiliki PC. Dimana dapat dilihat pada
gambar dibawah hasil audit menyatakan Laptop saya memiliki RAM
berkapasitas 4GB.
4. Processor
Memberikan informasi kecepatan Processor pada PC. Dimana dapat
dilihat pada gambar dibawah hasil audit menyatakan Laptop saya memiliki
kecepatan RAM dibawah 1 GHz.
5. Disk Space
Memberikan informasi status kapasitas disk pada PC. Dimana dapat
dilihat pada gambar dibawah hasil audit menyatakan kapasitas Disk C pada
Laptop saya dalam status warning karena hanya memiliki kurang dari sama
dengan 25% kapasitas yang tersisa.
6. Security
Memberikan informasi status keamanan PC.
7. Hardware
Memberikan informasi Perangkat Keras pada PC.
KESIMPULAN
Setelah mencoba program Audit Tools E-Z Audit 15, saya menyimpulkan beberapa keungulan :
1. Program sangat ringan, hanya memakai kurang dari 5 MB di Hardisk dan juga prosesnya hanya memakai 12 MB di RAM.
2. Proses audit yang dilakukan cepat dan akurat. Untuk mengaudit di
satu komputer atau PC hanya dalam waktu 4 menit dimana untuk proses
audit file hanya didefinisikan satu jenis file.
3. Hasil laporan mudah dipahami dan menarik dilihat.
4. Hasil laporan dapat langsung dicetak / print dan juga dapat disimpan apabila ingin digunakan di lain waktu.
5. Dapat melakukan multi-audit sehingga tidak repot menginstall
klien, cukup dengan menghubungkan client dengan jaringan ke komputer
yang menjalankan E-Z Audit PC.
6. Keamanan sangat terjaga saat proses audit, dikarenakan program
tidak mengubah konfigurasi dari keamanan seperti Firewall, Antivirus dan
Service lainnya.
Menurut saya program audit ini sangat berguna untuk audit dalam skala
besar maupun kecil juga sangat handal serta transparan dalam proses
audit yang dilakukan. Sebagai contoh sebuah perusahaan yang melakukan
pengadaan PC dalam jumlah banyak, sehingga akan butuh waktu lama untuk
mengecek secara fisik dimana harus membongkar atau membuka PC yang
banyak tersebut untuk mengecek spesifikasi dari PC, belum lagi harus
mengecek sistem operasi dan juga aplikasi yang ada di dalam sistem.
Namun apabila menggunakan E-Z Audit ini, cukup dengan menginstall ke
satu komputer dimana yang lainnya terhubung lewat jaringan ke komputer
tersebut, maka proses audit dapat dilakukan secara langsung dan juga
keseluruhan secara software maupun hardware. Maka dengan cara tersebut
dapat dilakukan penghematan waktu serta sumber daya.
Untuk transparan atau tidaknya laporan, menurut saya hasil audit
sudah dapat dinyatakan transparan, dikarenakan proses audit dilakukan
melalui On-Line oleh E-Z Audit sehingga tidak ada manipulasi data
seperti pada System Properties bawaan Sistem Operasi. Hasil audit berupa
laporan yang mudah diteliti sehingga sangat mudah apabila terjadi
kejanggalan karena disajikan dalam bentuk persentase.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Audit TI merupakan proses pengumpulan dan evaluasi bukti-bukti untuk
menentukan apakah sistem komputer yang digunakan telah dapat melindungi
aset milik organisasi, mampu menjaga integritas data, dapat membantu
pencapaian tujuan organisasi secara efektif, serta menggunakan sumber
daya yang dimiliki secara efisien (Weber, 2000). Audit TI sendiri
merupakan gabungan dari berbagai macam ilmu, antara lain: Traditional
Audit, Manajemen Sistem Informasi, Sistem Informasi Akuntansi, Ilmu
Komputer, dan Behavioral Science.
Pada dasarnya, Audit TI dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu
Pengendalian Aplikasi (Application Control) dan Pengendalian Umum
(General Control). Tujuan pengendalian umum lebih menjamin integritas
data yang terdapat di dalam sistem komputer dan sekaligus meyakinkan
integritas program atau aplikasi yang digunakan untuk melakukan
pemrosesan data. Sementara, tujuan pengendalian aplikasi dimaksudkan
untuk memastikan bahwa data di-input secara benar ke dalam aplikasi,
diproses secara benar, dan terdapat pengendalian yang memadai atas
output yang dihasilkan.
Dalam audit terhadap aplikasi, biasanya, pemeriksaan atas
pengendalian umum juga dilakukan mengingat pengendalian umum memiliki
kontribusi terhadap efektifitas atas pengendalian-pengendalian aplikasi.
Dalam praktiknya, tahapan-tahapan dalam audit TI tidak berbeda dengan
audit pada umumnya. Tahapan perencanaan, sebagai suatu pendahuluan,
mutlak perlu dilakukan agar auditor mengenal benar objek yang akan
diperiksa. Di samping, tentunya, auditor dapat memastikan
bahwa qualified resources sudah dimiliki, dalam hal ini aspek SDM yang
berpengalaman dan juga referensi praktik-praktik terbaik ( best
practices ). Tahapan perencanaan ini akan menghasilkan suatu program
audit yang didesain sedemikian rupa, sehingga pelaksanaannya akan
berjalan efektif dan efisien, dan dilakukan oleh orang-orang yang
kompeten, serta dapat diselesaikan dalam waktu sesuai yang disepakati.
Dalam pelaksanaannya, auditor TI mengumpulkan bukti-bukti yang
memadai melalui berbagai teknik termasuk survei, interview, observasi
dan review dokumentasi (termasuk review source-code bila diperlukan).
Satu hal yang unik, bukti-bukti audit yang diambil oleh auditor
biasanya mencakup pula bukti elektronis (data dalam bentuk file
softcopy). Biasanya, auditor TI menerapkan teknik audit berbantuan
komputer, disebut juga dengan CAAT (Computer Aided Auditing Technique).
Teknik ini digunakan untuk menganalisa data, misalnya saja data
transaksi penjualan, pembelian, transaksi aktivitas persediaan,
aktivitas nasabah, dan lain-lain.
Sesuai dengan standar auditing ISACA (Information Systems Audit and
Control Association), selain melakukan pekerjaan lapangan, auditor juga
harus menyusun laporan yang mencakup tujuan pemeriksaan, sifat dan
kedalaman pemeriksaan yang dilakukan. Laporan ini juga harus menyebutkan
organisasi yang diperiksa, pihak pengguna laporan yang dituju dan
batasan-batasan distribusi laporan. Laporan juga harus memasukkan
temuan, kesimpulan, rekomendasi sebagaimana layaknya laporan audit pada
umumnya.
1.2 Rumusan Masalah
BI Akui Banyak Bank Dibobol Karena Pengawasan Internal Memble
Herdaru Purnomo – detikfinance
Rabu, 22/06/2011 11:16 WIB
Jakarta – Bank Indonesia (BI) mengakui banyaknya kasus fraud atau
pembobolan bank akhir-akhir ini disebabkan karena lemahnya pengawasan
internal. Bank sentral meminta bank untuk introspeksi serta membenahi
pengendalian internal dengan mengoptimalkan manajemen risiko.
“Kasus-kasus yang terjadi merupakan kesempatan perbankan Indonesia
untuk introspeksi untuk menyempurnakan pengawasan ke arah yang lebih
berbasis risiko. Juga fokus pada aspek kepatuhan dan fungsional terutama
risiko operasional untuk memitigasi risiko termasuk internal auditor,”
ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia Halim Alamsyah disela diskusi
mengenai banking efficiency award 2011 di Hotel Nikko, Jakarta, Rabu
(22/6/2011).
Dicontohkan Halim, beberapa kasus besar industri perbankan global
misalnya saja di Singapura beberapa waktu lalu juga dikarenakan lemahnya
pengawasan internal dan level top manajemen. Kasus di Indonesia,
sambung Halim tidak jauh dari hal tersebut dimana terdapat beberapa
kelemahan.
“Antara lain level top manajemen dalam melakukan review secara
berkala terhadap kebijakan sistem prosedur SOP dan pengendalian
internal, kemudian pengawasan internal yang kurang optimal serta adanya
kelemahan implementasi kebijakan sistem dan prosedur serta SDM yang
kurang menjalankan prinsip Know Your Employee,” paparnya.
“Ditambah ada beberapa pejabat yang kelewat batas dengan dapat
mudahnya memodifikasi data nasabah yang tidak diketahui pimpinan bank
sehingga terjadi penarikan tanpa diketahui,” imbuh Deputi Bidang
Pengawasan BI ini.
Maka dari itu, Halim menyampaikan BI akan menyempurnakan sejumlah
aturan untuk memperkuat good corporate governance dalam melindungi
kepentingan nasabah dan industri perbankan. Aturan yang digodok antara
lain menyempurnakan kontrol internal yang efektif, ketersediaan standard
operational procedure yang memadai dan mendorong pengawasan aktif dari
direksi dan komisaris.
Selain itu, bank sentral juga akan menyempurnakan pengawasan dengan
penguatan fungsi Direksi Kepatuhan yang lebih optimal dan satuan kerja
audit internal dan manajemen risiko yang dapat beroperasi secara
independen.
“Semuanya itu antara lain lapisan pertahanan pertama pada bank kalau
semuanya dilakukan dapat mengurangi risiko operasional,” ujarnya.
Disamping pengguatan GCG di internal bank, menurut Halim, bank
sentral juga akan mendorong pengawasan masyarakat dan kantor akuntan
publik yang mengaudit bank. “Ini merupakan lapisan kedua sehingga ada
jaminan yang baik terhadap perlindungan dana nasabah dan bank itu
sendiri sebagai industri,” ujarnya.
2.1 Teori dan Penelitian
AUDIT SISTEM INFORMASI
Audit merupakan sebuah kegiatan yang melakukan pemerikasaan untuk
menilai dan mengevaluasi sebuah aktivitas atau objek seperti
implementasi pengendalian internal pada sistem informasi akuntansi yang
pekerjaannya ditentukan oleh manajemen atau proses fungsi akuntansi yang
membutuhkan improvement. Proses auditing telah menjadi sangat rapi di
Amerika Serikat, khususnya pada bidang profesional accounting
association. Akan tetapi, baik profesi audit internal maupun eksternal
harus secara terus menerus bekerja keras untuk meningkatkan dan
memperluas teknik, karena profesi tersebut akan menjadi tidak mampu
untuk mengatasi perkembangan dalam teknologi informasi dan adanya
tuntutan yang semakin meningkat oleh para pemakai informasi akuntansi.
Meskipun berbagai macam tipe audit dilaksanakan, sebagian besar audit
menekankan pada sistem informasi akuntansi dalam suatu organisasi dan
pencatatan keuangan dan pelaksanaan operasi organisasi yang efektif dan
efisien. Secara garis besar perlunya pelaksanaan audit dalam sebuah
perusahaan yang telah mempunyai keahlian dalam bidang teknologi
informasi yaitu antara lain:
- Kerugian akibat kehilangan data.
Data yang diolah menjadi sebuah informasi, merupakan aset penting
dalam organisasi bisnis saat ini. Banyak aktivitas operasi mengandalkan
beberapa informasi yang penting. Informasi sebuah organisasi bisnis akan
menjadi sebuah potret atau gambaran dari kondisi organisasi tersebut di
masa lalu, kini dan masa mendatang. Jika informasi ini hilang akan
berakibat cukup fatal bagi organisasi dalam menjalankan aktivitasnya.
Sebagai contoh adalah jika data nasabah sebuah bank hilang akibat
rusak, maka informasi yang terkait akan hilang, misalkan siapa saja
nasabah yang mempunyai tagihan pembayaran kredit yang telah jatuh tempo.
Atau juga misalkan kapan bank harus mempersiapkan pembayaran simpanan
deposito nasabah yang akan jatuh tempo beserta jumlahnya. Sehingga
organisasi bisnis seperti bank akan benar-benar memperhatikan bagaimana
menjaga keamanan datanya. Kehilangan data juga dapat terjadi karena
tiadanya pengendalian yang memadai, seperti tidak adanya prosedur
back-up file. Kehilangan data dapat disebabkan karena gangguan sistem
operasi pemrosesan data, sabotase, atau gangguan karena alam seperti
gempa bumi, kebakaran atau banjir.
- Kerugian akibat kesalahan pemrosesan komputer.
Pemrosesan komputer menjadi pusat perhatian utama dalam sebuah sistem
informasi berbasis komputer. Banyak organisasi telah menggunakan
komputer sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas pekerjaan mereka.
Mulai dari pekerjaan yang sederhana, seperti perhitungan bunga berbunga
sampai penggunaan komputer sebagai bantuan dalam navigasi pesawat
terbang atau peluru kendali. Dan banyak pula di antara organisasi
tersebut sudah saling terhubung dan terintegrasi. Akan sangat
mengkhawatirkan bila terjadi kesalahan dalam pemrosesan di dalam
komputer. Kerugian mulai dari tidak dipercayainya perhitungan matematis
sampai kepada ketergantungan kehidupan manusia.
- Pengambilan keputusan yang salah akibat informasi yang salah.
Kualitas sebuah keputusan sangat tergantung kepada kualitas informasi
yang disajikan untuk pengambilan keputusan tersebut. Tingkat akurasi
dan pentingnya sebuah data atau informasi tergantung kepada jenis
keputusan yang akan diambil. Jika top manajer akan mengambil keputusan
yang bersifat strategik, mungkin akan dapat ditoleransi berkaitan dengan
sifat keputusan yang berjangka panjang. Tetapi kadangkala informasi
yang menyesatkan akan berdampak kepada pengambilan keputusan yang
menyesatkan pula.
- Kerugian karena penyalahgunaan komputer (Computer Abused)
Tema utama yang mendorong perkembangan dalam audit sistem informasi
dalam sebuah organisasi bisnis adalah karena sering terjadinya kejahatan
penyalahgunaan komputer. Beberapa jenis tindak kejahatan dan
penyalah-gunaan komputer antara lain adalah virus, hacking, akses
langsung yang tak legal (misalnya masuk ke ruang komputer tanpa ijin
atau menggunakan sebuah terminal komputer dan dapat berakibat kerusakan
fisik atau mengambil data atau program komputer tanpa ijin) dan atau
penyalahgunaan akses untukkepentingan pribadi (seseorang yang mempunyai
kewenangan menggunakan komputer tetapi untuk tujuan-tujuan yang tidak
semestinya).
– Hacking – seseorang yang dengan tanpa ijin mengakses sistem
komputer sehingga dapatmelihat, memodifikasi, atau menghapus program
komputer atau data atau mengacaukan sistem.
– Virus – virus adalah sebuah program komputer yang
menempelkan diri dan menjalankan sendiri sebuah program komputer atau
sistem komputer di sebuah disket, data atau program yang bertujuan
mengganggu atau merusak jalannya sebuah program atau data komputer yang
ada di dalamnya. Virus dirancang dengan dua tujuan, yaitu pertama
mereplikasi dirinya sendiri secara aktif dan kedua mengganggu atau
merusak sistem operasi, program atau data.
Dampak dari kejahatan dan penyalahgunaan komputer tersebut antara lain:
- Hardware, software, data, fasilitas, dokumentasi dan pendukung
lainnya rusak atau hilang dicuri atau dimodifikasi dan disalahgunakan.
- Kerahasiaan data atau informasi penting dari orang atau organisasi rusak atau hilang dicuri atau dimodifikasi.
- Aktivitas operasional rutin akan terganggu
- Kejahatan dan penyalahgunaan komputer dari waktu ke waktu semakin
meningkat, dan hampir 80% pelaku kejahatan komputer adalah orang dalam.
- Nilai hardware, software dan personil sistem informasi.
Dalam sebuah sistem informasi, hardware, software, data dan personil
adalah merupakan sumberdaya organisasi. Beberapa organisasi bisnis
mengeluarkan dana yang cukup besar untuk investasi dalam penyusunan
sebuah sistem informasi, termasuk dalam pengembangan sumberdaya
manusianya. Sehingga diperlukan sebuah pengendalian untuk menjaga
investasi di bidang ini.
- Pemeliharaan kerahasiaan informasi
Informasi di dalam sebuah organisasi bisnis sangat beragam, mulai
data karyawan, pelanggan, transaksi dan lainya adalah amat riskan bila
tidak dijaga dengan benar. Seseorang dapat saja memanfaatkan informasi
untuk disalahgunakan. Sebagai contoh bila data pelanggan yang rahasia,
dapat digunakan oleh pesaing untuk memperoleh manfaat dalam persaingan.
Pada saat komputer pertama kali digunakan, banyak auditor mempunyai
pemikiran bahwa proses audit akan harus banyak mengalami perubahan untuk
menyesuaikan dengan penggunaan teknologi komputer. Ada dua utama yang
harus diperhatikan dalam audit atas pemrosesan data elektronik, yaitu
pengumpulan bukti (evidence collection) dan evaluasi bukti (evidence
evaluation)
TUJUAN dan LINGKUP AUDIT SISTEM INFORMASI
Tujuan Audit Sistem Informasi dapat dikelompokkan ke dalam dua aspek utama, yaitu:
- Conformance (Kesesuaian) – Pada kelompok tujuan ini audit sistem
informasi difokuskan untuk memperoleh kesimpulan atas aspek kesesuaian,
yaitu : Confidentiality (Kerahasiaan), Integrity (Integritas),
Availability (Ketersediaan) dan Compliance (Kepatuhan).
- Performance (Kinerja) – Pada kelompok tujuan ini audit sistem
informasi difokuskan untuk memperoleh kesimpulan atas aspek kinerja,
yaitu : Effectiveness (Efektifitas), Efficiency (Efisiensi), Reliability
(Kehandalan).
PERAN AUDITOR dan AKUNTAN
Sebagian besar jurusan akuntansi mengisi posisi internal maupun
eksternal auditor dan akan sangat dilibatkan dalam program dan proses
audit. Para akuntan pemerintah atau industri akan membantu auditor untuk
mengevaluasi informasi yang dihasilkan dan mengendalikan kelemahan pada
system. Mereka yang dilibatkan dalam sistem analisis dan desain
diharapkan dapat mengembangkan sebuah sistem yang menyediakan informasi
yang handal.
Pemakaian auditor terus meningkat sebagai penasehat selama merancang
pengembangan sistem. Auditor mungkin membantu dalam pemilihan ukuran
keamanan dan kendali, menaksir cost, dan pengendalian keuntungan dan
penentuan prosedur audit yang paling efektif.
DEFINISI AUDIT SISTEM INFORMASI
Merupakan suatu proses pengumpulan dan pengevaluasian bukti-bukti
yang dilakukan oleh pihak yang independen dan kompeten untuk mengetahui
apakah suatu sistem informasi dan sumber daya terkait, secara memadai
telah dapat digunakan untuk:
-
melindungi aset,
• menjaga integritas dan ketersediaan sistem dan data,
• menyediakan informasi yang relevan dan handal,
• mencapai tujuan organisasi dengan efektif,
• menggunakan sumber daya dengan efisien,
TIPE AUDIT
Audit yang dilaksanakan sesuai tipe perusahaan yaitu operasional,
compliance, pengembangan system, internal control, financial dan
kecurangan audit. Empat jenis auditor yang dilibatkan dalam
menyelenggarakan audit yang di list adalah:
- Internal auditor adalah karyawan perusahaan, yang pada umumnya
melaksanakan compliance, operasional, pengembangan sistem, pengawasan
intern dan kecurangan audit.
- Ekstenal auditor adalah akuntan publik independen yang ditugaskan
oleh perusahaan, secara khusus melaksanakan audit keuangan. Dalam
berbagai macam audit keuangan, eksternal auditor dibantu oleh internal
auditor. Akan tetapi auditor eksternal yang bertanggung jawab untuk
menegaskan kewajaran laporan keuangan.Goverment auditor, melaksanakan
pemenuhan audit atau menguji laporan perusahaan atas pengawasan yang
menyangkut para pegawai pemerintahan. sebagai contoh, pemeriksa bank
pemerintahan melaksanakan audit bank, auditor yang dtugaskan oleh
auditor negara yang umumnya melaksanakan audit daerah dan para pegawai
pemerintah
- Fraud auditor, mengkhususkan dalam menyelidiki kecurangan dan
bekerja secara tertutup dengan internal auditor dan pengacara. fraud
examminer misalnya: kesatuan FBI penyelidikan kecurangan, perusahan
besar akuntan publis,IRS,perusahaan asuransi.
Jenis-jenis audit:
- Operational audit, terkonsen pada efisiensi dan efectifitas dengan
semua sumberdaya yang digunakan untuk melaksanakan tugas, cakupanya
meliputi kesesuaian praktik dan prosedur dengan peraturan yang
ditetapkan
- Compliance audit terkonsentrasi pada cakupan undang-undang,
peraturan pemerintah, pengendalian dan kewajiban badan eksternal lain
yang telah diikut.
- Project manajement and change control audit,(dulu dikenal sebagai
suatu pengembangan sistem audit) terkonsentrasi oleh efesiensi dan
efektifitas pada berbagai tahap pengembangan sistem siklus kehidupan
yang sedang diselenggarakan.
- Internal control audit terkonsentrasi pada evaluasi struktur pengendalian internal
- Financial audit terkonsentrasi pada kewajaran laporan keuangan yang
menunjukan posisi keuangan, aliran kas dan hasil kinerja perusahaan.
- Fraud audit adalah nonrecurring audit yang dilaksanakan untuk
mengumpulkan bukti untuk menentukan apakah sedang terjadi, telah terjadi
atau akan terjadi kecurangan. Dan penyelesaian hal sesuai dengan
pemberian tanggungjawab.
BASIC AUDITING CONSIDERATIONS
– Etika dan standar audit
Kebutuhan akan etika. Setiap profesi mempunyai standar professional
dalam bertingkah laku dan prakteknya. Statement ini ditulis dalam bentuk
yang dapat dimengerti dan dapat dilaksanakan berdasarkan aturan yang
ada. Kode etik auditor menunjukkan sikap dan prinsip yang harus ada pada
auditor sehingga dapat memberikan kontribusi pada audit yang efektif,
melindungi kepentingan pemilik perusahaan yang diaudit, dan menjaga
hubungan yang baik dengan klien.
Dalam lingkup auditing, kode etik disebut codes of professional
conduct. Internal auditor mengikuti standar-standar praktik professional
internal auditing. Sedangkan auditor eksternal mengikuti pernyataan
standar auditing. kedua standar ini mempunyai banyak persamaan.
Consultant independent yang berkecimpung dibidang manajemen dan system
informasi juga mempunyai kode etik. Kode etik ini dikembangkan oleh
AICPA yang serupa dengan standar auditor.
– Isi dari standar
Standar audit menentukan kualitas dan tingkah laku yang professional.
Standar ini dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok yang pertama
membicarakan mengenai standar umum audit yaitu berhubungan dengan
profesionalitas, dan independensi. Sedangkan standar yang kedua
membicarakan mengenai lingkup audit seperti halnya :
1.eveluasi struktur pengendalian internal untuk menilai risiko pengendalian.
2. review terhadap semua dokumen dan catatan yang bersangkutan.
– Efek dari otomatisasi standar
Ketika perusahaan menggunakan system informasi akuntansi berbasis
computer, pasti akan berakibat pada prosedur audit yang ditetapkan. Di
lain pihak, dengan penggunaan system teknologi tidak memberikan pengaruh
yang signifikan. Dengan kata lain, otomatisasi sangat tidak berpengaruh
pada standar auditing professional yang berterima umum. Auditor
dituntut untuk dapat menunjukkan profesionalismenya, termasuk pelatihan
dan kecakapan yang memadai. Auditor diminta untuk mengikuti proses audit
yang sama. Proses ini terdiri dari evaluasi terhadap internal control
yang ada, termasuk saat menggunakan computer-oriented.
Impact of computerization on audit procedures
Seperti yang telah diterangkan, audit yang melibatkan SIA akan
dipengaruhi oleh metode processing yang diterapkan. Luas/cakupan dari
computer processing yang digunakan dalam aplikasi akuntansi, seperti
halnya tingkat kompleksitas processing, mungkin juga berpengaruh
terhadap sifat, timing, dan luas dari prosedur audit. Sebagai contoh,
computer based system tidak menyediakan audit trail (jejak audit) yang
nampak. Audit dalam sistem ini memerlukan hasil printout dari jurnal dan
buku besar dan file record yang lain. Dengan penggunaan real-time
processing system akan menambah tingkat kesulitan, dikarenakan sistem
ini beroperasi tanpa membutuhkan dokumen sumber. Selain itu, sistem ini
juga melakukan record secara update. Microcomputer hardware dapat dicuri
dengan mudah dan dapat pila diakses oleh pihak-pihak yang tidak
berwewenang. Sedangkan paket microcomputer software sering diproses
tanpa pengecekan yang cukup. Network komputer memancarkan data ke
berbagai wilayah terutama ke wilayah yang peka terhadap akses tanpa
otorisasi dan gangguan. Jika keadaan ini mempengaruhi struktur internal
control mak juga akan mempengaruhi proses audit.
Dikarenakan tingginya tingkat kompleksitas dari computer based
processing, maka dibutuhkan tipe auditor khusus yaitu auditor sistem
informasi komputer atau the computer information system auditor (CISA).
CISA menguasai skill khusus, misalnya pengetahuan mengenai hardware dan
software komputer, database technology, data communications technology,
and computer oriented control and audit technique. Idealnya, auditor
seharusnya mengusai berbagai skill yang dimiliki CISA. Bagaimanapun,
keberadaan CISA yang berpengetahuan yang lebih mengenai teknologi
informasi akan selalu dibutuhkan untuk membantu proses audit dalam
sistem komputer yang kompleks.
Transaction cycle approach to auditing
Beberapa survei mengenai proses transaksi telah berorientasi pada
cycle approach (pendekatan siklus). Pendekatan ini, sangat berguna bagi
proses audit karena auditor dapat memperoleh pemahaman yang mendalam
tentang struktur internal control. Pendekatan ini juga dapat
menyederhanakan audit review. Contohnya, penerapan control yang identik
antara siklus revenue dengan siklus expenditure yang dikarenakan kedua
siklus ini berhubungan, maka model proses yang diberikan juga sama.
AUDITING PROCESS
Terdapat lima tahap dalam audit keuangan, yaitu:
1. Perencanaa audit pendahuluan
2. Review pendahuluan dan assesment terhadap struktur pengendalian internal
3. Pengujian pengendalian dalam audit
4. Pengujian substantif
5. Pelaporan audit
- Perencanaan audit pendahuluan
Tahap pertama ini untuk menentukan kebutuhan audit serta menetapkan
cakupan dan tujuan audit. Langkah selanjutnya mencari informasi mengenai
industri perusahaan, meneliti kertas kerja tahun sebelumnya,
mempersiapkan program audit, memperoleh pemahaman mengenai bisnis
perusahaan dan mempersiapkan prosedur analitis. Prosedur analitis adalah
tes untuk menguji hubungan antara data keuangan dan non keuangan dan
untuk menyelidiki ketidakkonsistenan yang material.
- Review pendahuluan dan assesment terhadap struktur pengendalian internal
Kegiatan yang dilakukan adalah:
- Pemeriksaan, Dokumentasi, dan Penilaian Sistem Pengendalian
Internal. Auditor harus memahami terlebih dahulu mengenai sistem
pengendalian internal perusahaan. Dengan pemahaman tersebut, auditor
dapat menilai kekuatan dan kelemahan sistem pengendalian internal.
Auditor sebaiknya menggunakan berbagai teknik untuk mengumpulkan fakta,
seperti memeriksa kembali catatan dan dokumen, mengamati kegiatan,
interview dengan personel inti dan memberikan kuisioner.
- Menilai dan Mengelompokkan Tingkat Resiko Pengendalian. Terdapat beberapa langkah :
- Auditor melakukan penilaian pendahuluan berkaitan dengan keefektifan
operasi dalam struktur pengendalian internal dan pengendalian khusus
yang diterapkan dalam SAI harus diidentifikasi.
- Auditor harus membuat judgement (penilaian) agar pengendalian
internal yang diimplementasikan adalah pengendalian yang kritis dan
mereka dapat bekerja sesuai yang ditentukan oleh manajemen.
- Auditor harus menilai setiap kekuatan pengendalian internal,
sehingga risiko pengendalian dapat diperkirakan. Pada tingkat di mana
risiko itu berada dalam suatu kisaran yang dapat diterima, auditor
mempersiapkan program audit yang menunjukkan langkah pengujian kekuatan
pengendalian yang terkait. Resiko pengendalian diartikan sebagai risiko
yang menunjukkan pernyataan salah secara material dalam asersi-asersi
yang mengarah pada kesalahan yang signifikan dalam laporan keuangan.
- Keefektifan Biaya dalam Pengujian Pengendalian. Pengujian terhadap
risiko pengendalian pendahuluan harus mempertimbangkan faktor biaya.
Oleh karena itu alternatif yang mungkin bisa dilakukan oleh seseorang
dengan adanya audit lebih memperluas prosedur pengujian substanstif.
- PENGUJIAN PENGENDALIAN DALAM AUDIT
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah :
- Melakukan Pengujian Pengendalian. Pengujian pengendalian adalah
pengumpulan bukti-bukti yang berfungsi secara efektif dan konsisten.
- Mengevaluasi Pengujian Pengendalian yang diperoleh. Setelah
memperoleh hasil-hasil pengujian, auditor dapat mengevaluasi efektifitas
operasional dari sistem pengendalian internal. Bukti tersebut mendukung
penemuan audit untuk tiap-tiap siklus transaksi yang dievaluasi.
Evaluasi yang dihasilkan ini menunjukkan judgement auditor yang terbaik
berkaitan dengan (a) memadainya pengendalian yang diamati dan (b)
kemampuan menemukan ketidakcukupan hasil pengujian.
- Penilaian Akhir terhadap Risiko Pengendalian. Berdasarkan evaluasi
di atas auditor menilai tingkat risiko pengendalian tertentu untuk
tiap-tiap kelompok transaksi yang utama. Tingkat risiko pengendalian
akhir memberikan dasar untuk memperkirakan tingkat risiko yang
terdeteksi yang akan datang, sifat, waktu, serta luasnya prosedur
pengujian substantif.
- Mengembangkan Program Audit Final. Program audit meliputi
prosedur-prosedur khusus yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan audit.
Auditor menyatakan sifat dan prosedur pengujian yang menunjukkan luas
dan waktu dibutuhkan
- PENGUJIAN SUBSTANTIF
Langkah-langkahnya adalah:
- Memilih dan Melaksanakan Pengujian Substanstif. Pengujian substantiv
merupakan bagian terbesar dari program audit.Tujuan dari pengujian
substantiv dalam audit keuangan adalah untuk memberikan asersi laporan
keuangan yang valid yang dibuat oleh manajemen. Tiga pengujian
substantiv tersebut adalah: (1) melakukan prosedur analitis final, (2)
menguji rekening neraca, (3) menguji secara rinci kelompok-kelompok
transaksi. Jumlah pengujian substantiv didasarkan pada risiko terdeteksi
final untuk tiap-tiap golongan transaksi utama.
- Mengevaluasi Pengujian Substantif. Dalam evaluasi ini, hasil
pengujian yang dapat diterima, untuk meminimalisasi kemungkinan
kesalahan-kesalahan yang material dan pernyataan yang salah dalam asersi
laporan keuangan. Hasil pengujian yang tidak dapat diterima memerlukan
penambahan sample dalam transaksi sebelum audit dapat diselesaikan.
- PELAPORAN AUDIT
Tahap final audit ini adalah untuk memberikan laporan audit berkaitan
dengan permasalahan yang ada di perusahaan.Langkah-langkahnya adalah:
- Mencatat Laporan Audit.
- Mencatat Kondisi-kondisi yang dapat dilaporkan. Auditor harus
membuat catatan atas kondisi-kondisi yang dilaporkan kepada dewan audit,
mencakup kecurangan-kecurangan yang signifikan dalam perancangan atau
operasi dari sistem pengendalian internal perusahaan.
PENGENDALIAN MENGGUNAKAN IT
TEKNIK DAN PENDEKATAN PENGAUDITAN BERBASIS KOMPUTER
Teknik yang spesifik hanya diaplikasikan untuk sistem informasi
pemrosesan transaksi secara otomatis. Teknik ini dapat digunakan untuk
pengujian pengendalian atau pengujian substantif. Namun begitu, sistem
ini tidak bisa menggunakan sistem flowchart, data flow diagram dan
kuisioner dalam mereview struktur pengendalian intern. Tiga teknik
pengujian yang berbasis komputer (Computer Assisted Audit
Techniques/CAAT) yaitu pengauditan sekitar komputer, pengauditan melalui
komputer, pengauditan dengan menggunakan komputer. Auditor intern dan
ekstern dapat menggunakan tiga teknik pendekatan ini secara efektif.
Pengauditan Sekitar Komputer
Pendekatan pengauditan sekitar komputer (auditing around the
computer) memperlakukan komputer sebagai “kotak hitam”. Pendekatan ini
difokuskan pada input dan outputnya. Asumsi yang mendasari pendekatan
ini yaitu jika auditor dapat menunjukkan output yang aktual adalah hasil
yang benar yang diharapkan dari sekumpulan input untuk sistem
pemrosesan, maka pemrosesan komputer harus difungsikan menggunakan cara
yang handal. Teknik yang penting dalam pendekatan ini meliputi
penelusuran dan pemilihan transaksi dari dokuman sumber untuk meringkas
transaksi dan catatan serta sebaliknya. Pendekatan pengauditan sekitar
komputer adalah non processing data method. Auditor tidak menyiapkan
simulated data transaction atau menggunakan file-file auditee yang
aktual untuk memprosesnya dengan program komputer auditee. Pendekatan
sekitar komputer akan tepat, jika kondisi berikut ini terpenuhi :
- Audit trail lengkap dan visible. Oleh karena itu dokumen sumber
digunakan untuk semua transaksi, jurnal-jurnal terinci dicetak dan
referensi transaksi dipindahkan dari jurnal ke buku besar dan laporan
ringkas.
- Pemrosesan operasi yang secara relatif tidak rumit dan volumenya rendah.
- Dokumennya lengkap, seperti data flow diagram dan sistem flowchart, yang tersedia bagi auditor.
Pengauditan Melalui Komputer
Karena pendekatan sekitar komputer tidak mencukupi, pendekatan
alternatif dibutuhkan untuk pengauditan berbasis komputer (auditing
through the computer), yang secara langsung difokuskan pada tahap
pemrosesan dan edit check, serta programmed check. Pendekatan ini
disebut dengan pengauditan melalui komputer. Asumsi dari pendekatan ini
adalah jika program dikembangkan dengan menambah programmed check,
kesalahan (error) dan ketidakberesan akan dapat terdeteksi, sehingga
dapat dikatakan dapat dipercaya.
Pendekatan pengauditan melalui komputer dapat diaplikasikan untuk
semua sistem otomatisasi pemrosesan yang kompleks. Bahkan jika biayanya
efektif dan memungkinkan, pendekatan sekitar komputer dan pengauditan
melalui komputer dapat dikerjakan untuk pekerjaan audit yang sama.
Dengan mengerjakan secara bersamaan, keuntungannya menjadi lebih besar
dan tujuan audit dapat tercapai.
Pengauditan Dengan Menggunakan Komputer
Pendekatan ini menggunakan komputer (auditing with the computer)
untuk tujuan pengerjaan tahap-tahap program audit yang terinci.
Pendekatan ini juga digunakan untuk mengotomatisasi aspek tertentu dalam
proses pengauditan. Komputer ditransformasikan pada audit scene selama
mereka dapat mengerjakan jumlah fungsi audit, seperti pengujian
pengendalian dan pengujian substantive. Auditor dapat menggunakan
paket-paket spreadsheet excel, untuk menciptakan spreadsheet yang berisi
laporan keuangan dari perusahaan yang diaudit. Pengembangan yang lain
adalah template, efek program dan format on screen dengan menggunakan
paket software spreadsheet. Template ini memungkinkan auditor untuk
mengerjakan tugas yang sebelumnya dikerjakan secara manual. Template
didesain untuk membantu menyiapkan neraca, memelihara pengulangan
pemasukan jurnal, mengevaluasi hasil sampel, penjadwalan dan mengelola
waktu auditor dalam audit lapangan, melaksanakan pengujian yang masuk
akal terhadap pengeluaran serta mengestimasi pengeluaran.
Pendekatan pengauditan dengan komputer yang populer menggunakan
software audit selama pengujian substantif terhadap catatan dan file
perusahaan. Software audit secara umum terdiri dari kumpulan program
rutin. Tipe software yang digunakan yaitu generalized audit software
(GAS) yang terdiri dari satu atau lebih program rutin yang dapat
diterapkan pada berbagai situasi dan berbagai tipe organisasi. GAS
sering dipakai untuk melakukan substantive test dan digunakan test of
control yang terbatas. Sebagai contoh GAS sering dipakai untuk mengetes
fungsi algoritma yang komplek dalam program computer. Tetapi ini
memerlukan pengalaman yang luas dalam penggunaan software ini.
Audit Software, penggunaan software dalam melaksanakan audit dengan
komputer dapat membantu dalam pengujian substantive catatan dan file
perusahaan.
Tipe software audit yang uama adalah GAS (Generalized Audi Software),
yang terdiri dari satu atau lebih program yang applicable pada bernagai
situasi audit pada suatu perusahaan. ACL (Audit Comand Language)
merupakan interaktif, yang menghubungkan user dengan computer. ACL
membantu auditor untuk untuk menganalisis data klien dengan beberapa
fungsi, misalnya attribute sampling, histogram generation, record aging,
file comparation, duplicate checking, dan file printing. Yang relative
powerful, fleksibel dan mudah dipelajari.sehingga auditor dapat
memodifikasi program untuk situasi khusus.
Fungsi audit yang khas yang tersedia pada paket GAS:
- Extracting data from files, GAS harus mempunyai kemampuan untuk
menyuling dan retrieve data dari berbagai struktur, media, dan bentuk
catatan file pada saat digunakan untuk mengaudit perusahaan yang
bervariasi. Setelah di suling, data diedit dan kemdian ditransfer pada
audit work file, penyimpanan data tersedia untuk digunakan dengan
program lain yang ada pada GAS
- Calculating With data,beberapa step dalam audit terdiri dai
addition, subtraction, multiplication dan division operation. Contohnya
koreksi jurnal dilakuka dengan menjural ulang.
- Performing comparisons with data, perbandingan mungkin dilakukan
untuk menyeleksi data elemen untuk di tes untuk memastikan adanya
konsistensi diantara data elemen dan untuk memverifikasi apakah kondisi
tertentu telah didapat. GAS seharusnya menyediakan logical operator
seperti equal, less than, dan greater than.
- Sumarizing data, data elements harus sering di ringkas untuk
memberikan dasar untuk perbandingan. Contoh: list detail gaji harus
diringkas untuk dibandingkan dengan laporan penggajian.
- Analyzing data, berbagai data harus dianalisis untuk memberikan
dasar review atas trend perusahaan. Contohnya, piutang harus ditaksir
umurnya utuk menentukan kemungkinan piutang tersebut dapat ditagih.
- Reorganizing data, data elemen perlu untuk di sortir atau
digabungkan. Contohnya: berbaga produk yang dijual perusahaan boleh
mungkin di re-sorted secara ascending berdasar jumlah total penjualan
untuk membantu analisis penjualan.
- Select sample for testing. Dalam audit, tidak semua data dapat di
uji. Sample harus diambil secara random. Contohnya sample customer dapat
dipilih secara random dari catatan piutang dagang.
- Gathering statistical data, seorang auditor sering membutuhkan
data-data statistik. Contohnya: mean dan median dari penjualan produk.
- Printing Confirmation Request, analyses, and other output
Manfaat GAS:
1. Memungkinkan auditor untuk mengakses catatan computer yang dapat dibaca untuk berbagai macam aplikasi dan organisasi.
2. Memungkinkan auditor untuk memeriksa lebih banyak data daripada jika auditor masih menggunakan proses manual.
3. Dapat melakukan berbagai macam fungsi audit secara cepat dan akurat, termasuk pemilihan sample secara statistic.
4. Mengurangi ketergantungan pada nonauditing personel untuk melakukan
peringkasan data, dengan demikian auditor dapat mengelola pengendalian
audit yang lebih baik.
5. Auditor hanya memerlukan pengetahuan yang cukup (tidak begitu dalam) tentang computer.
Keterbatasan GAS:
GAS tidak memeriksa application programe dan programmed check secara
langsung sehingga tidak dapat menggantikan audit
–through-the-computer-techniques.
AUDIT OPERASIONAL DALAM DEPARTEMEN PEMROSESAN INFORMASI
Sifat Audit Operasional Pemrosesan Data. Satu tipe utama audit
operasional meliputi pengauditan fungsi pemrosesan informasi. Audit
operasional pemrosesan data secara sistematis memperkirakan keefektifan
unit-unit dalam mencapai tujuan dan mengidentifikasikan kondisi yang
dibutuhkan untuk perbaikan. Pemrosesan data audit operasional mempunyai
sifat yang luas meliputi semua kegiatan departemen pemrosesan atau
mungkin dihubungkan dengan segmen khusus dalam kegiatan tersebut,
tergantung pada tujuan manajemen.Situasi Yang Muncul Dalam Audit
Operasional Pemrosesan Data
Dalam hal pemrosesan data yang umumnya terjadi adalah:
- Biayanya tinggi untuk penyediaan jasa komputer.
- Bagian utama dari rencana perusahaan.
- Usulan perolehan hardware yang utama atau meng-upgrade software.
- Ketidakmampuan menerima pemrosesan data komputer secara eksekutif.
- Kebutuhan pemrosesan data eksekutif yang baru untuk penilaian secara intensif.
- Ketidakteraturan perputaran personil dalam departemen pemrosesan data.
- Usulan untuk mengkonsolidasi atau mendistribusikan sumberdaya pemrosesan data.
- Merupakan sistem utama yang tidak responsif terhadap kebutuhan atau sulit dalam pemeliharaan.
- Meningkatnya jumlah komplain user.
Proses Audit Operasional Pemrosesan Data
Audit operasional pada fungsi data processing tidak mempunyai
starting place, tetapi berpedoman pada tujuan audit. Masing-masing audit
mempunyai ciri khas dan memerlukan individual treatment karenanya
lingkup audit berbeda sesuai dengan tujuannya. Dengan mengabaikan
lingkup audit, tugas pertama dalam audit operasional yaitu untuk
memperkenalkan diri pada organisasi dan DP departemen untuk diaudit. Hal
ini adalah sebuah tahap penting bagi auditor untuk memperoleh dan
meninjau ulang latar belakang informasi pada unit, aktivitas, dan fungsi
yang akan
diaudit.Tahap ini
penting dan sebaiknya diikuti dengan mengabaikan audit operasional yang
dilakukan secara internal. auditor sebaiknya mengumpulkan informasi dari
klien untuk memperoleh pemahaman tentang DP departemen dan tujuannya.
Banyak latar belakang informasi yang sebaiknya digunakan auditor pada
tahap ini mencakup lokasi departemen DP, nama manajer pada DP, no SDM
pada DP berdasar level dan tipe,metode evaluasi SDM, tingkat pertukaran
SDM, tugas dan tanggung jawab karyawan, identifikasi peralatan komputer
yang digunakan dan identifikasi sistem operasi yang digunakan. phisical
layout chart pusat komputer sebaiknya diperoleh dari DP manajer ( atau,
jika tak tersedia, disiapkan oleh auditor). kerjasama DP manajemen
menjadi hal yang penting selama tahap perencanaan.
setelah tujuan audit tealah ditetapkan, dan lingkup audit telah
ditentukan serta manajemen cooperation diperoleh, maka auditor siap
untuk preliminary survey. survei membantu auditor untuk mengidentifikasi
lingkup masalah, sensitive area, dan operasi yang rumit tentang audit
DP departement. Setelah preliminary survey, auditor harus bisa
menentukan tingkat kompleksitas audit operasional.selama preliminnary
survey, auditor akan mempelajari permasalahan operasional manajemen DP.
Auditor perlu mendalami mengenai DP center sehingga familiar dengan
pengoperasiannya. Auditor sebaiknya membuat rencana dalam mengusulkan
petunjuk DP centernya dan bertindak sebagai penghubung bagi semua data
collection dan dokumentasi syang diperoleh. Auditor akan membentuk
rencana tahapan dalam operasi actual yang disesuaikan dengan diskripsi
tertulis maupun lisan dan pemahaman yang telah diberikan oleh DP
personil kepada auditor. Proses verifikasi ini memerlukan contoh
transaksi atau lingkup kerja yang diuji secara detail.
Prelimanary phase pada operational audit merupakan basis pada tahap
pengujian audit yang terperinci. DP manajemen sebaiknya diberitahu
pengungkapan penyimpangan dan membantu dalam petunjuk pada lingkup
permasalahan. Auditor mendisain program audit untuk maenemukan
pertimbangan atau penyebab ketidakcocokan.
Aktivitas untuk menguji dan mengevaluasi tahap audit ini meliputi:
- fungsi pengolahan informasi pada organisasi
- praktek dan kebijakan sumber daya manusia
- operasi komputer
- pengembangan sistem dan implementasinya
- aplication system operation
Lima area terdaftar ini diharapkan dapat menyajikan beberapa
faktor-faktor penting yang harus dipertimbangkan. ketika mereka memberi
auditor suatu pandangan umum tentang komponen penting DP functioni dan
dapat bertindak sebagai starting point yang baik.
• Reporting
Pada tahap penyelesaian opersional audit laporan diberikan kepada manajemen dan komite audit
perusahaan.Isi
dari laporan ini bervariasi sesuai pada harapan manajemen.contohnya :
laporan mungkin terdiri dari pendapat yang mengacu pada fungsi
pengelolaan informasi yang efektif dan efisien, dan saran-saran yang
membangun.Internal auditor diwajibkan untuk melakukan follow up pada
report audit findings dan memberikan rekomendasi untuk memastikan bahwa
komite audit mengambil langkah yang tepat.
3.1 Metodologi dan Solusi
Standar (COBIT)
Control Objectives for Information and related Technology (COBIT,
saat ini edisi ke-3) adalah sekumpulan dokumentasi best
practices untuk IT governance yang dapat membantu auditor, manajemen and
pengguna ( user ) untuk menjembatani gap antara risiko bisnis,
kebutuhan kontrol dan permasalahan-permasalahan teknis.
COBIT dikembangkan oleh IT Governance Institute, yang merupakan
bagian dari Information Systems Audit and Control Association (ISACA).
COBIT memberikan arahan ( guidelines ) yang berorientasi pada bisnis,
dan karena itu business process owners dan manajer, termasuk juga
auditor dan user, diharapkan dapat memanfaatkan guideline ini dengan
sebaik-baiknya.
Kerangka kerja COBIT ini terdiri atas beberapa arahan ( guidelines ),
yakni : Control Objectives: Terdiri atas 4 tujuan pengendalian
tingkat-tinggi ( high-level control objectives ) yang tercermin dalam 4
domain, yaitu: planning & organization , acquisition &
implementation ,delivery & support , dan monitoring .
Audit Guidelines: Berisi sebanyak 318 tujuan-tujuan pengendalian yang
bersifat rinci ( detailed control objectives ) untuk membantu para
auditor dalam memberikan management assurance dan/atau saran perbaikan.
Management Guidelines: Berisi arahan, baik secara umum maupun
spesifik, mengenai apa saja yang mesti dilakukan, terutama agar dapat
menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
– Sejauh mana Anda (TI) harus bergerak, dan apakah biaya TI yang dikeluarkan sesuai dengan manfaat yang dihasilkannya.
– Apa saja indikator untuk suatu kinerja yang bagus?
– Apa saja faktor atau kondisi yang harus diciptakan agar dapat mencapai sukses ( critical success factors )?
– Apa saja risiko-risiko yang timbul, apabila kita tidak mencapai sasaran yang ditentukan?
– Bagaimana dengan perusahaan lainnya – apa yang mereka lakukan?
– Bagaimana Anda mengukur keberhasilan dan bagaimana pula membandingkannya.
The COBIT Framework memasukkan juga hal-hal berikut ini:
Maturity Models – Untuk memetakan status maturity proses-proses TI
(dalam skala 0 – 5) dibandingkan dengan “the best in the class in the
Industry” dan juga International best practices Critical Success
Factors (CSFs) – Arahan implementasi bagi manajemen agar dapat melakukan
kontrol atas proses TI.
Key Goal Indicators (KGIs) – Kinerja proses-proses TI sehubungan
dengan business requirements Key Performance Indicators (KPIs) – Kinerja
proses-proses TI sehubungan dengan process goals COBIT dikembangkan
sebagai suatu generally applicable and accepted standard for good
Information Technology (IT) security and control practices . Istilah
“ generally applicable and accepted ” digunakan secara eksplisit dalam
pengertian yang sama seperti Generally Accepted Accounting
Principles (GAAP).
Sedang, COBIT’s “good practices” mencerminkan konsensus antar para
ahli di seluruh dunia. COBIT dapat digunakan sebagai IT Governance
tools, dan juga membantu perusahaan mengoptimalkan investasi TI mereka.
Hal penting lainnya, COBIT dapat juga dijadikan sebagai acuan atau
referensi apabila terjadi suatu kesimpang-siuran dalam penerapan
teknologi.
Suatu perencanaan Audit Sistem Informasi berbasis teknologi (audit
TI) oleh Internal Auditor, dapat dimulai dengan menentukan area-area
yang relevan dan berisiko paling tinggi, melalui analisa atas ke-34
proses tersebut. Sementara untuk kebutuhan penugasan tertentu, misalnya
audit atas proyek TI, dapat dimulai dengan memilih proses yang relevan
dari proses-proses tersebut.
Lebih lanjut, auditor dapat menggunakan Audit Guidelines sebagai
tambahan materi untuk merancang prosedur audit. Singkatnya, COBIT
khususnya guidelines dapat dimodifikasi dengan mudah, sesuai dengan
industri, kondisi TI di Perusahaan atau organisasi Anda, atau objek
khusus di lingkungan TI.
Selain dapat digunakan oleh Auditor, COBIT dapat juga digunakan oleh
manajemen sebagai jembatan antara risiko-risiko TI dengan pengendalian
yang dibutuhkan (IT risk management) dan juga referensi utama yang
sangat membantu dalam penerapan IT Governance di perusahaan.
Audit TI: Sebelum atau Sesudah
Seiring dengan makin banyaknya institusi, baik pemerintahan maupun
swasta, yang mengandalkan TI untuk mendukung jalannya operasional
sehari-hari, maka kesadaran akan perlunya dilakukan review atas
pengembangan suatu sistem informasi semakin meningkat.
Risiko-risiko yang mungkin ditimbulkan sebagai akibat dari gagalnya pengembangan suatu sistem informasi, antara lain:
– Biaya pengembangan sistem melampaui anggaran yang ditetapkan.
– Sistem tidak dapat diimplementasikan sesuai dengan jadwal yang ditetapkan.
– Sistem yang telah dibangun tidak memenuhi kebutuhan pengguna.
– Sistem yang dibangun tidak memberikan dampak effisiensi dan
nilai ekonomis terhadap jalannya operasi institusi, baik pada masa
sekarang maupun masa datang.
– Sistem yang berjalan tidak menaati perjanjian dengan pihak ketiga atau memenuhi aturan yang berlaku.
Untuk mengantisipasi hal itu, perusahaan menginginkan adanya
assurance dari pihak yang berkompeten dan independen mengenai kondisi
sistem TI yang akan atau sedang mereka gunakan. Pihak yang paling
berkompeten dan memiliki keahlian untuk melakukan review tersebut adalah
Auditor Sistem Informasi (Auditor TI).
Pekerjaan auditor TI ini belum banyak dikenal di Indonesia . Di
samping itu, jumlah tenaga auditor TI yang menyandang sertifikasi
Internasional ( CISA, Certified Information System Auditor ) juga masih
sangat terbatas.
Best Practice menyarankan agar dalam proses pengembangan suatu sistem
informasi yang signifikan, perlu dilakukan review, baik itu sebelum
atau pada saat implementasi ( pre-implementation system ), maupun
setelah sistem “live” ( post-implementation system ).
Manfaat Pre-Implementation Review:
– Institusi dapat mengetahui apakah sistem yang telah dibuat
sesuai dengan kebutuhan ataupun memenuhi acceptance criteria.
– Mengetahui apakah pemakai telah siap menggunakan sistem tersebut.
– Mengetahui apakah outcome sesuai dengan harapan manajemen.
Manfaat Post-Implementation Review:
– Institusi mendapat masukan atas risiko-risiko yang masih ada dan saran untuk penanganannya.
– Masukan-masukan tersebut dimasukkan dalam agenda
penyempurnaan sistem, perencanaan strategis dan anggaran pada periode
berikutnya.
– Bahan untuk perencanaan strategis dan rencana anggaran di masa datang.
– Memberikan reasonable assurance bahwa sistem informasi telah
sesuai dengan kebijakan atau prosedur yang telah ditetapkan.
– Membantu memastikan bahwa jejak pemeriksaan (audit trail)
telah diaktifkan dan dapat digunakan oleh manajemen, auditor maupun
pihak lain yang berwenang untuk melakukan pemeriksaan.
– Membantu dalam penilaian apakah initial proposed values telah terealisasi dan saran tindak lanjutnya.
(Source : www.ebizzasia.com Volume II, tahun 2004)
Pembaharuan Utama Standar Inernasional
Dapat Menolong Bisnis Meningkatkan Nilai IT, Menurunkan
Resiko Rolling Meadows, Ill, USA, 14 Desember — Lembaga Pengaturan IT
(IT Governance Institute, ITGI) pada 16 Desember 2005, akan
memperbaharui tujuan pengontrolan informasi dan teknologi yang terkait
(COBIT), suatu kerangka kerja pengaturan IT yang dapat diterima secara
internasional. COBIT dapat menyediakan seperangkat praktek yang dapat
diterima pada umumnya karena dapat membantu para direktur, eksekutif dan
manager meningkatkan nilai IT dan mengecilkan resiko. “Para eksekutif
menyadari bahwa dampak informasi dapat menjadikan jalan perusahaan
mereka ke arah keberhasilan dan tanggungjawab pengaturan yang meningkat
yang mereka miliki untuk menjamin adanya keberhasilan,” ujar Erik
Guldentops, CISA, CISM, seorang konsultan manajemen di Brussels, Belgia
dan juga anggota tim pengembangan COBIT sejak berdirinya.
Edisi COBIT terbaru memberikan praktek dan hubungan ke atas terbaik
untuk menunjang persyaratan pengelolaan IT bagi para eksekutif dan
direktur dan yang berkaitan dengan hubungan ke bawah digunakan untuk
mengatasi persyaratan yang lebih rinci bagi mereka yang bertanggungjawab
terhadap solusi dan jasa pengiriman. Ini semua juga memberikan dukungan
agar dapat mengoptimalkan investasi IT, menjamin nilai pengiriman dan
meringankan resiko IT dengan cara yang lebih transparan.
Walaupun COBIT juga digunakan secara luas sebagai alat untuk
keperluan Sarbanes-Oxley (SOX), edisi awalnya mencakup banyak
masalahpengendalian aturan termasuk juga SOX. Ia merupakan produk yang
diperoleh melalui penelitian dan kerjasama selama 10 tahun antara ahli
IT global dan bisnis dan juga sudah tersedia sebagai standar terbuka
www.isaca.org/cobit.
Edisi terbaru — COBIT 4.0 memberikan fokus bisnis yang cukup kuat
untuk mengatasi tanggungjawab para direktur dan pegawai. COBIT 4.0
menandai pembaharuan pertama dari isi COBIT sejak dirilisnya edisi COBIT
ketiga di tahun 2000. Edisi pertama diterbitkan di tahun 1994. Studi
kasus pelaksanaan COBIT di organisasi internasional utama misalnya
Unisys, Sun Microsystems dan DPR Amerika juga terdapat di
http://www.isaca.org/cobitcasestudies.
“COBIT 4.0 tidak kelihatan seperti sebuah buku akademik. Ada materi
yang cukup berguna pada setiap halaman,” ujar Christopher Fox, ACA.
“COBIT 4.0 mampu menjadi sebuah dokumen yang sangat bermanfaat.”
COBIT 4.0 ini juga mencakup bimbingan bagi para direktur dan semua level manajemen dan terdiri atas empat seksi:
Gambaran luas mengenai eksekutif
Kerangka kerja
Isi utama (tujuan pengendalian, petunjuk manajemen dan model kedewasaan)
Appendiks (pemetaan, ajuan silang dan daftar kata-kata)
Isi utama dibagi lagi menurut proses 34 IT dan memberikan gambaran
yang sempurna mengenai cara mengendalikan, mengelola dan mengukur
masing-masing proses.
Selain itu, COBIT 4.0:
Menganalisa bagaimana tujuan pengendalian dapat dipetakan ke dalam
lima wilayah penentuan IT agar dapat mengidentifikasi gap potensial.
Menyesuaikan dan memetakan COBIT ke standar yang lain (ITIL, CMM, COSO, PMBOK, ISF and ISO 17799)
Mengklarifikasikan indikator tujuan utama (KGI) dan indikator
hubungan kinerja utama (KPI), dengan mengenal bagaimana KPI dapat
bergerak mencapai KGI.
Menghubungkan tujuan bisnis, IT and proses IT (penelitian mendalam di
delapan industri dengan pandangan yang lebih jelas tentang bagaimana
proses COBIT mendukung tercapainya tujuan IT spesifik dan dengan
perluasan, tujuan bisnis).
COBIT 4.0 bisa menggantikan komponen edisi ketiga yang menyangkut
Ringkasan Eksekutif, Kerangka kerja, Tujuan Pengontrolan dan Petunjuk
Manajemen. Pekerjaan sedang dilakukan agar bisa mengatasi petunjuk
Audit.
Perkenalan COBIT 4.0 tetap akan melakukan pekerjaan yang dilakukan
oleh COBIT edisi ketiga, tetapi hanya memberikan kesempatan untuk
membangun pekerjaan itu dan selanjutkan meningkatkan penentuan IT dan
pengendaliannya bila cocok.
Banyak COBIT tersedia untuk dapat melakukan download di
http://www.isaca.org/cobit. Salinan cetak dapat dibeli di toko buku ISACA (
http://www.isaca.org/bookstore) sebesar US $190. Situs pelengkap yang menawarkan pandangan mendalam mengenai COBIT 4.0 sudah tersedia di
http://www.livemeeting.com/cc/isaca/view. Tentang COBIT
COBIT® (Tujuan pengendalian bagi informasi dan teknologi terkait®))
dikeluarkan oleh ITGI dapat diterima secara internasional sebagai
praktek pengendalian atas informasi, IT dan resiko terkait. COBIT
digunakan untuk menjalankan penentuan atas IT dan meningkatkan
pengontrolan IT. COBIT juga berisi tujuan pengendalian, petunjuk audit,
kinerja dan hasil metrik, faktor kesuksesan dan model
kedewasaan. Tentang ITGI
Lembaga Pengaturan IT® (IT Governance Institute, ITGI) (
http://www.itgi.org)
didirikan pada tahun 1998 untuk memajukan pemikiran dan standar
internasional dalam mengarahkan dan mengendalikan teknologi informasi
sebuah perusahaan. Pengaturan IT yang efektif dapat membantu meyakinkan
bahwa IT sangat mendukung tujuan bisnis dan mengelola resiko yang
berkaitan dengan IT dan kesempatan. Lembaga Pengaturan IT mengembangkan
tujuan pengendalian bagi informasi dan teknologi terkait (COBIT) serta
menawarkan penelitian dan studi kasus untuk membantu pengelola
perusahaan dan para direktur dalam tanggungjawab pengaturan IT.
(Source : www.isaca.org)
IT Audit Guideline Based on COBIT 4.1
November 15th, 2007 in
SBSA,
Agenda (detail)
COBIT dikenal sebagai best practice dalam membangun framework kontrol
dan IT audit baik diadopsi sebagian maupun seluruhnya. Workshop STEP BY
STEP APPROACH kali ini mengajak para top executive dan manager
perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk mendiskusikan bagaimana
melakukan langkah-langkah audit dengan berdasar pada COBIT 4.1.
Pertama, memahami framework COBIT 4.1 secara umum. Kedua, memahami
framework audit dengan menggunakan COBIT 4.1. Ketiga, mendiskusikan
langkah-langkah konkrit audit secara step-by-step dalam kajian studi
kasus : mengidentifikasi tujuan dan ruang lingkup, pemetaan tujuan,
identifikasi risiko, menentukan kriteria informasi,
mengidentifikasi/memilih proses IT, mengidentifikasi benchmark,
assessment, analisis gap, penyusunan program implementasi, dan
pelaporan.
Diskusi antara para top executive dan nara sumber dalam WORKSHOP STEP
BY STEP APPROACH ini diharapkan memberikan gambaran langkah-langkah
nyata bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk melakukan self
assessment tentang IT Governance-nya. Dan semoga melalui langkah-langkah
ini membuat pencapaian Good Corporate IT Governance makin nyata!
Lingkup kriteria informasi yang sering menjadi perhatian dalam COBIT adalah:
* Effectiveness
Menitikberatkan pada sejauh mana efektifitas informasi dikelola dari
data-data yang diproses oleh sistem informasi yang dibangun.
* Efficiency
Menitikberatkan pada sejauh mana efisiensi investasi terhadap informasi yang diproses oleh sistem.
* Confidentiality
Menitikberatkan pada pengelolaan kerahasiaan informasi secara hierarkis.
* Integrity
Menitikberatkan pada integritas data/informasi dalam sistem.
* Availability
Menitikberatkan pada ketersediaan data/informasi dalam sistem informasi.
* Compliance
Menitikberatkan pada kesesuaian data/informasi dalam sistem informasi.
* Reliability
Menitikberatkan pada kemampuan/ketangguhan sistem informasi dalam pengelolaan data/informasi.
Sedangkan fokus terhadap pengelolaan sumber daya teknologi informasi dalam COBIT adalah pada:
* Applications
* Information
* Infrastructure
* People
Hal yang menarik dari COBIT adalah adanya versi khusus untuk skala usaha kecil- menengah (UKM) yang disebut COBIT Quickstart.
4.1 KESIMPULAN
Audit merupakan sebuah kegiatan yang melakukan pemerikasaan untuk
menilai dan mengevaluasi sebuah aktivitas atau objek seperti
implementasi pengendalian internal pada sistem informasi akuntansi yang
pekerjaannya ditentukan oleh manajemen atau proses fungsi akuntansi yang
membutuhkan improvement.
Tujuan Audit Sistem Informasi dapat dikelompokkan ke dalam dua aspek utama, yaitu:
- Conformance (Kesesuaian) – Pada kelompok tujuan ini audit sistem
informasi difokuskan untuk memperoleh kesimpulan atas aspek kesesuaian,
yaitu : Confidentiality (Kerahasiaan), Integrity (Integritas),
Availability (Ketersediaan) dan Compliance (Kepatuhan).
- Performance (Kinerja) – Pada kelompok tujuan ini audit sistem
informasi difokuskan untuk memperoleh kesimpulan atas aspek kinerja,
yaitu : Effectiveness (Efektifitas), Efficiency (Efisiensi), Reliability
(Kehandalan).
Jenis-jenis audit:
- Operational audit, terkonsen pada efisiensi dan efectifitas dengan
semua sumberdaya yang digunakan untuk melaksanakan tugas, cakupanya
meliputi kesesuaian praktik dan prosedur dengan peraturan yang
ditetapkan
- Compliance audit terkonsentrasi pada cakupan undang-undang,
peraturan pemerintah, pengendalian dan kewajiban badan eksternal lain
yang telah diikut.
- Project manajement and change control audit,(dulu dikenal sebagai
suatu pengembangan sistem audit) terkonsentrasi oleh efesiensi dan
efektifitas pada berbagai tahap pengembangan sistem siklus kehidupan
yang sedang diselenggarakan.
- Internal control audit terkonsentrasi pada evaluasi struktur pengendalian internal
- Financial audit terkonsentrasi pada kewajaran laporan keuangan yang
menunjukan posisi keuangan, aliran kas dan hasil kinerja perusahaan.
- Fraud audit adalah nonrecurring audit yang dilaksanakan untuk
mengumpulkan bukti untuk menentukan apakah sedang terjadi, telah terjadi
atau akan terjadi kecurangan. Dan penyelesaian hal sesuai dengan
pemberian tanggungjawab.
Pengendalian Mengguanakan IT
Teknik dan Pendekatan Pengauditan Berbasis Komputer
Pengauditan Sekitar Komputer
Pengauditan Melalui Komputer
Pengauditan Dengan Menggunakan Komputer
COBIT (Control Objectives for
Information and related Technology) adalah sekumpulan dokumentasi best
practices untuk IT governance yang dapat membantu auditor, manajemen and
pengguna ( user ) untuk menjembatani gap antara risiko bisnis,
kebutuhan kontrol dan permasalahan-permasalahan teknis.
COBIT dikembangkan oleh IT Governance Institute, yang merupakan
bagian dari Information Systems Audit and Control Association (ISACA).
COBIT memberikan arahan ( guidelines ) yang berorientasi pada bisnis,
dan karena itu business process owners dan manajer, termasuk juga
auditor dan user, diharapkan dapat memanfaatkan guideline ini dengan
sebaik-baiknya. COBIT dikenal sebagai best practice dalam membangun
framework kontrol dan IT audit baik diadopsi sebagian maupun seluruhnya.
Lingkup kriteria informasi yang sering menjadi perhatian dalam COBIT adalah:
* Effectiveness
* Efficiency
* Confidentiality
* Integrity
* Availability
* Compliance
* Reliability
Sedangkan fokus terhadap pengelolaan sumber daya teknologi informasi dalam COBIT adalah pada:
* Applications
* Information
* Infrastructure
* People
Referensi :
http://anantopriyadi.multiply.com/journal/item/34?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem
www.ebizzasia.com Volume II, tahun 2004
http://www.isaca.org/cobit
http://itjen.kemhan.go.id
http://finance.detik.com/read/2011/06/28/180802/1670912/5/kurang-pengawas-bank-bi-akui-masih-punya-kelemahan